
Lainnya
Tuli Bukan Hambatan: Kisah Pemberdayaan Komunitas Hard of Hearing di Era Digital
Mutia Rahman
23 Jun 2026•3 min read
Di tengah kota Solo, ada kafe kecil yang beroperasi dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada pesanan yang diteriakkan. Semua komunikasi berjalan lewat isyarat tangan, ekspresi wajah, dan papan tulis kecil di setiap meja. Namanya Kafe Tuli, ruang aman sekaligus ruang ekonomi yang dibangun oleh komunitas Tuli sendiri. Kisah seperti ini makin banyak ditemukan. Di berbagai kota di Indonesia, komunitas Tuli dan hard of hearing pelan-pelan membangun ekosistem pemberdayaan mereka sendiri. Dan teknologi digital jadi salah satu jembatan terpentingnya. Era baru komunikasi Video call, subtitle otomatis, dan fitur aksesibilitas di media sosial membuka peluang yang dulu hampir tidak terbayangkan. Seorang content creator Tuli sekarang bisa menjangkau ribuan penonton lewat YouTube atau TikTok, dengan konten bahasa isyarat yang dilengkapi teks. Komunitas online Tuli tumbuh pesat, dari forum diskusi, grup WhatsApp, sampai kanal YouTube khusus bahasa isyarat. "Dulu kami harus bergantung penuh pada juru bahasa isyarat untuk hampir semua urusan. Sekarang, dengan teknologi yang tepat, kami bisa lebih mandiri," ujar seorang anggota komunitas Tuli Jakarta dalam sebuah forum disabilitas tahun lalu. Tantangan yang belum selesai Tapi perjalanan ini belum mulus. Aksesibilitas digital di Indonesia masih timpang. Banyak situs pemerintah dan platform layanan publik yang tidak menyediakan teks atau interpretasi bahasa isyarat. Padahal Indonesia punya lebih dari 2,5 juta warga tunarungu. Di dunia kerja juga tidak jauh berbeda. Banyak pekerja hard of hearing yang kesulitan mengikuti rapat virtual tanpa caption, atau menghadapi proses rekrutmen yang tidak mengakomodasi kebutuhan komunikasi mereka. Ke depannya Gerkatin bersama organisasi disabilitas lain terus mendorong kebijakan inklusi digital yang lebih serius. Salah satu tuntutan utamanya adalah kewajiban penyediaan juru bahasa isyarat di seluruh siaran berita televisi, bukan hanya di segmen tertentu, serta standar aksesibilitas minimum untuk layanan digital pemerintah. Di tengah semua itu, komunitas Tuli tidak berhenti membangun ruang mereka sendiri. Kafe Tuli di Solo tadi bukan cuma tempat makan. Ia jadi tempat belajar bahasa isyarat, ruang berkumpul komunitas, dan bukti bahwa pemberdayaan bisa tumbuh dari dalam.