
Pendidikan
Kenapa Sih Nggak Ada Bahasa Isyarat yang "Universal"?
Fredy Ramadhan
23 Jun 2026•3 min read
Biar paham kenapa nggak ada bahasa isyarat yang universal di dunia, kita harus tahu satu fakta mendasar dulu: bahasa isyarat itu bukan sekadar kode visual dari bahasa lisan. Bahasa isyarat itu adalah bahasa yang utuh dan alami. Mereka punya tata bahasa (grammar), sintaksis, dan kosakata sendiri yang lahir dari interaksi sesama manusia. Layaknya bahasa lisan, bahasa isyarat berkembang secara organik di mana pun orang-orang Tuli berkumpul. Biasanya, sekolah luar biasa (SLB) tunarungu pertama di suatu negara menjadi tempat bahasa ini mulai terbentuk. Bahasa Isyarat Prancis (LSF) berkembang di sekolah tunarungu Paris pada abad ke-18, yang sendirinya berasal dari bahasa yang sudah ada dan berkembang di komunitas Tuli Paris. Bahasa Isyarat Inggris (BSL) berkembang mandiri dari sistem isyarat lokal yang sudah ada duluan di Inggris. Sedangkan Bisindo tumbuh dan berkembang dalam budaya dan masyarakat Indonesia. Karena komunitas-komunitas ini terpisah jarak, bahasa mereka berkembang ke arah yang beda total. Apalagi, budaya dan sejarah masyarakat di negara-negara tersebut jauh berbeda. Jadi, batas wilayah bahasanya ditentukan oleh banyak hal, tetapi bukan karena status pendengaran mereka. Kalau orang Tuli dituntut buat pakai satu bahasa isyarat global, itu sama aja kayak nyuruh semua orang yang bisa mendengar buat ngomong pakai bahasa Esperanto. Memang ada sih bahasa buatan untuk internasional, tapi jarang banget bisa menggantikan bahasa ibu. Orang Tuli punya ikatan yang kuat sama bahasa isyarat nasional atau regional mereka seperti ASL, BSL, atau Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), sama seperti orang mendengar yang bangga pakai bahasa Inggris, Mandarin, atau bahasa Jawa. Intinya, bahasa itu lekat banget sama budaya, komunitas, dan identitas nasional. Banyak orang yang mengira bahasa isyarat itu cuma sekadar "ngeja huruf" atau "memperagakan" bahasa lisan setempat. Padahal fungsinya nggak kayak gitu. Orang Amerika dan orang Inggris sama-sama pakai bahasa Inggris lisan, tapi pengguna ASL dan BSL nggak bakal saling paham isyarat masing-masing. Bahasa isyarat memanfaatkan ruang, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh buat menyusun tata bahasanya. Contohnya, kalau di Bisindo, gestur menempelkan jari di antara hidung dan bibir atas memiliki arti “ayah”. Kata “ayah” bisa jadi memiliki gestur yang berbeda di bahasa isyarat lain, karena ayah memiliki peran atau posisi sosial yang berbeda. Mungkin kamu akan berpikir, "Kan bisa aja mereka janjian pakai gerakan yang mirip sama bentuk aslinya?" Masalahnya, apa yang kelihatan "jelas" di satu budaya, belum tentu jelas di budaya lain. Isyarat kata "pohon" di ASL bentuknya mirip batang pohon lengkap dengan ranting-rantingnya. Kalau di Bahasa Isyarat Tiongkok, isyarat "pohon" itu seperti ngegambar karakter huruf Hanzi untuk kayu (木) di udara. Dua-duanya masuk akal buat penggunanya masing-masing, tapi bakal kelihatan asing banget buat orang luar. Budaya itu sangat membentuk cara kita melihat dan menggambarkan dunia di sekitar kita. Sebenarnya ada sistem isyarat internasional, tapi itu bukan sebuah bahasa. Namanya International Sign (IS) atau Isyarat Internasional. Biasanya ini dipakai di acara-acara global seperti Deaflympics (Olimpiade Tunarungu) atau kongres Federasi Tunarungu Sedunia. Tapi, IS ini lebih condong ke pidgin, artinya campuran isyarat yang disederhanakan yang meminjam kosakata dari berbagai bahasa, serta banyak ngandelin pantomim dan gerakan tubuh. IS nggak punya tata bahasa yang baku dan cuma berguna buat komunikasi dasar antar orang asing. Nggak praktis buat komunikasi sehari-hari. Kesimpulannya, nggak adanya bahasa isyarat universal itu bukan karena kita nggak mampu membuatnya, tapi justru jadi bukti indahnya keragaman manusia. Bahasa isyarat, sama seperti bahasa lisan, muncul dan dibentuk dari budaya, sejarah, kondisi geografis, iklim, dan banyak aspek lain dalam hidup kita. Kita mesti bangga dengan bahasa kita yang kaya, ekspresif, dan unik di tempat kita tinggal dan tumbuh besar, baik itu bahasa lisan, maupun isyarat.