
Pendidikan
Hard of Hearing: Di Antara Dua Dunia yang Tidak Sepenuhnya Menerima
Farras Arkan Wardana
23 Jun 2026•4 min read
Ada sekelompok orang yang kerap luput dari perhatian dalam diskusi aksesibilitas: mereka yang disebut hard of hearing — atau dalam bahasa Indonesia sering disebut "kurang dengar". Mereka bisa menangkap suara, tapi tidak sempurna. Mereka bisa berbicara, tapi sering salah dengar. Dan di sinilah dilema itu bermula.
Komunitas Tuli (dengan T kapital, merujuk pada identitas budaya) memiliki bahasa, komunitas, dan rasa memiliki yang kuat. Orang yang fully hearing pun punya dunianya sendiri. Tapi bagi yang hard of hearing, seringkali tidak ada ruang yang terasa benar-benar "milik mereka".
"Di antara orang dengar saya dianggap tuli. Di antara komunitas Tuli saya dianggap belum cukup Tuli. Saya ada di mana?"
Mengapa ini penting dibicarakan? Data Kemenkes Indonesia menunjukkan bahwa gangguan pendengaran ringan hingga sedang jauh lebih umum dibanding ketulian total, namun justru kelompok inilah yang paling sedikit mendapat dukungan struktural. Alat bantu dengar mahal, interpreter tidak tersedia untuk mereka yang "masih bisa mendengar sedikit", dan program pemberdayaan disabilitas sering menargetkan kondisi yang lebih ekstrem.
Solusi bukan tentang memilih sisi Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah konsep bimodal bilingualism — kemampuan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa lisan secara bersamaan. Ini membebaskan individu hard of hearing dari tekanan untuk "memilih" identitas, dan membuka akses ke komunitas yang lebih luas.
Organisasi seperti Gerkatin sebenarnya membuka pintu bagi anggota hard of hearing, namun sosialisasinya masih minim. Pemberdayaan disabilitas yang inklusif harus dimulai dari mengakui bahwa spektrum pengalaman itu nyata — dan setiap titik dalam spektrum itu berhak atas dukungan yang setara.
Langkah kecil yang berarti besar Subtitle di setiap video, mikrofon yang baik di ruang rapat, dan kesabaran untuk mengulang kalimat — hal-hal sederhana ini bukan kemewahan bagi kelompok hard of hearing. Ini adalah aksesibilitas dasar yang sudah seharusnya ada.